Budi Daya Udang Sampang Tersebar di Tujuh Kecamatan

SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Luas lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai tambak udang di Kabupaten Sampang mencapai lebih dari 3.000 hektare. Ribuan hektare tambak udang tersebut tersebar di tujuh kecamatan dari 14 kecamatan yang ada di Kota Bahari.

Tujuh kecamatan tersebut adalah Camplong, Sampang, Jrengik, Sreseh, Banyuates, Ketapang, dan Sokobanah. Sebagian besar pemilik tambak di Sampang membudidayakan udang vaname. Luas lahan tambak udang sekitar 588.719 meter persegi.

Kabid Perikanan dan Budi Daya Dinas Perikanan (Diskan) Sampang Moh. Mahfud mengatakan, udang bisa hidup di air payau. Karena itu, tujuh kecamatan yang dijadikan tempat budi daya udang rata-rata terletak di pesisir pantai. Terutama di pesisir pantai utara. ”Luas lahan air payau lebih dari 3.000 hektare,” katanya.

Menurut dia, cara membudidayakan udang dibagi tiga. Di antaranya, tradisional, semi intensif, dan intensif. Jika pakai cara tradisional, pembudi daya biasanya tidak memberikan pakan dan alat pendukung seperti kincir dan geomembran. Namun, tetap ada pakan pendukung.

Sementara yang intensif menggunakan peralatan lengkap. Misalnya, kincir, geomembran, obat-obatan, dan pakan. ”Keuntungannya jelas lebih banyak yang intensif,” ucapnya.

Mahfud menuturkan, budi daya udang membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab, harus mempersiapkan tambak, menebar benih, perawatan, hingga panen. Pengolahan lahan mulai dari pembajakan, pengapuran, pengobatan, pengisian air, hingga menebar benih butuh waktu sekitar sebulan.

Lahan yang akan dijadikan tempat penebaran benih harus benar-benar steril dari binatang dan bakteri lain. Dengan demikian, bibit udang bisa tumbuh normal. ”Setelah tiga bulan menebar benih, dalam waktu tiga bulan rata-rata bisa panen,” tuturnya.

Pembudi daya tidak perlu mencari pembeli. Sebab, biasanya sudah ada pengepul yang mendatangi tambaknya. Tiap pembudi daya biasanya sudah memiliki mitra bisnis. ”Khusus udang vaname, ada yang diekspor,” terang Mahfud.

Pembudi daya udang vaname di Desa Aeng Sareh, Kecamatan Kota Sampang, Imron mengaku menekuni usahanya sejak Maret 2019. Sebab, dia tergiur dengan laba yang diraup pembudi daya. ”Untungnya sampai dua kali lipat dari modal awal,” katanya.

Tambak udang seluas setengah hektare membutuhkan modal Rp 25 juta. Jika udang tumbuh maksimal, Imron bisa meraup uang hingga Rp 75 juta. ”Kalau ukuran besar Rp 76 ribu satu kilogram. Kalau ukuran kecil Rp 50 ribu per kilogram. Mengenai pemasarannya, kami tidak perlu bingung. Sudah ada pengepul,” ucap Imron.

Imron menambahkan, bibit udang dibeli dari kenalannya di Kabupaten Situbondo. Seribu bibit udang Rp 46 ribu. Lima hari usai menebar bibit, dia mulai memberikan pakan dua kali. Saat usia bibit 15 hari, pakan diberikan tiga kali. Selanjutnya, pakan diberikan empat kali sehari. ”Dalam setahun saya panen tiga kali,” tuturnya.

Pria berusia 40 tahun itu mengaku mengelola udang di lahan seluas 500 meter persegi. Udang berjenis vaname. Bibit itu dibeli dari relasinya di Situbondo. ”Tiga bulan biasanya sudah bisa panen. Tapi, saya biasa panen 80 hari usai menebar bibit. Tiga kali dalam Setahun,” paparnya.

Moh. tasik, pembudi daya udang vaname di Kelurahan Polagan, Kecamatan kota Sampang, menuturkan, saat ini dirinya menebar 100 ribu bibit udang di tambak seluas 800 meter persegi. Bibit tersebut dari Situbondo dan Rembang. ”Harga bibit bervariasi, mulai Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per seribu,” katanya.

Laki-laki berusia 70 tahun itu mengungkapkan, biaya operasional yang telah dikeluarkan Rp 40 juta. Jika tidak terjangkiti penyakit, keuntungan yang saya dapat bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta. ”Saya sudah empat kali gagal panen,” tutup Moh. Tasik. (iqb/yan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.